Televisi Sebagai Saluran Media Massa

Sulit dibayangkan masyarakat modern tanpa media massa seperti surat kabar, majalah, buku, radio, TV, dan fim. Media massa memiliki arti yang bermacam-macam bagi masyarakat dan memiliki banyak fungsi, tergantung pada jenis sistem politik dan ekonomi dimana media itu berfungsi, tingkat perkembangan masyarakat, dan minat serta kebutuhan individu tertentu. Namun selain memiliki fungsi, media juga mempunyai banyak disfungsi, yakni konsekuensi yang tidak diinginkan masyarakat atau anggota masyarakat. Adapun fungsi-fungsi media massa adalah sebagai berikut[1] :

 

1. Pengawasan

Fungsi ini memberi informasi dan menyediakan berita untuk memperingatkan kita akan bahaya yang mungkin terjadi. Misalnya saja seperti kondisi cuaca yang ekstrem atau berbahaya atau ancaman militer.

 

2. Korelasi

Korelasi adalah fungsi seleksi dan interpretasi informasi tentang lingkungan. Media kerap memasukkan kritik dan cara bagaimana seseorang harus bereaksi terhadap kejadian tertentu. Karena itu korelasi merupakan bagian media yang berisi editorial dan propaganda. Fungsi ini bertujuan untuk menjalankan norma sosial dan menjaga konsensus dengan mengekspose penyimpangan, memberikan status dengan cara menyoroti individu terpilih dan dapat berfungsi untuk mengawasi pemerintah.

 

3. Penyampaian Warisan Sosial

Ini merupakan fungsi dimana media menyampaikan informasi, nilai dan norma dari satu generasi ke generasi berikutnya atau dari anggota masyarakat ke kaum pendatang. Cara ini, bertujuan meningkatkan kesatuan masyarakat dengan memperluas dasar pengalaman umum mereka. Media massa dapat mengurangi perasaan terasing individu.

 

 

4. Hiburan (Entertainment)

Sebagian besar isi media adalah hiburan. Maksudnya adalah memberi waktu istirahat dari masalah yang dihadapi tiap hari dan mengisi waktu luang.

 

Noelle Neumann mengemukakan 3 faktor penting dalam media massa yang terabaikan pada penelitian terdahulu, yaitu[2]:

 

1. Ubiquity

Ubiquity artinya serba ada. Media massa khususnya televisi mampu mendominasi lingkungan informasi dan berada dimana-mana. Karena sifatnya yang serba ada, agak sulit bagi khalayak untuk menghindari pesan media massa.

 

2. Kumulasi Pesan

Pesan-pesan media yang disampaikan media massa bersifat kumulatif. Berbagai pesan yang tadinya sepotong-sepotong bergabung menjadi satu kesatuan setelah lewat waktu tertentu. Perulangan pesan yang berkali-kali dapat memperkokoh dampak media massa.

 

3. Keseragaman Wartawan

Siaran berita cenderung sama, karena ada keseragaman para wartawan (consonance of journalist). Sehingga dunia yang disajikan pada khalayak juga dunia yang sama. Khalayak akhirnya tak mempunyai alternatif yang lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya dari media massa.

 

2.3       Program Televisi

Pada umumnya isi program siaran ditelevisi meliputi acara seperti di bawah ini [3] :

1. News Reporting (Laporan Berita)

2. Talk Show

3. Call-in Show

4. Dokumenter

5. Magazine

6. Rural Program

7. Iklan

8. Pendidikan

9. Seni dan budaya

10. Musik

11. Sinetron / drama

12. Film

13. Kuis

14. Sitkom

Acara-acara tersebut sangat bergantung dari kepentingan masing-masing stasiun tv yang bersangkutan. Khusus untuk program berita  maka pengetahuan tentang jurnalistik siaran (broadcast journalism) sangat perlu dipelajari untuk seseorang yang akan menggeluti profesi sebagai reporter atau wartawan. Tujuannya agar mereka memiliki kemampuan baik teknis maupun non teknis dalam menyajikan berita yang diliputnya. Kelompok yang termasuk di dalam bahasan jurnalistik siaran (Broadcast Journalism) adalah sebagai berikut[4]:

 

1. News atau berita (Straight, Investigative)

2. News Interview (Wawancara Berita)

3. Feature (Human Interest)

4. Magazine (Tabloid)

5. Ulasan (Editorial)

6. Live Reporting (Siaran langsung atau Siaran Pandangan Mata)

 


[1] Werner J Severin and James W. Tankard, op.cit., hal 386

[2] Jalaludin Rakhmat. Op cit., hal 200

[3] Deddy Iskandar Muda,  Jurnalistik Televisi, Menjadi Reporter Profesional, Rosdakarya Cetakan Pertama, Bandung, hal 9

[4] Ibid., hal 17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: