Filsafat

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Dikatakan demikian karena manusia dikaruniai akal yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

Dengan akalnya manusia berpikir dan mencari jawaban atas fenomena-fenomena alam. Inilah asal mula pengetahuan, yaitu rasa ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul seputar dirinya dan alam sekitar bersifat filsafat. Awal dari filsafat adalah bertanya, bertanya tentang apa saja. Bertanya tentang kehidupan atau realitas sehari-hari. Jawabannya membutuhkan pemikiran filsafat.

Pemikiran, seperti juga perjalanan kehidupan manusia, sama-sama melampaui perjalanan sejarah. Di manapun ia, pemikiran merupakan ciri yang tidak bisa terpisahkan dari manusia. Di mana pun kakinya menjejak, pemikiran dan pemahaman senantiasa dibawahnya.

Para sejarawan filsafat percaya bahwa bunga rampai pemikiran paling kuno yang murni atau sebagian besarnya filosofis berasal dari kalangan cendekiawan Yunani ( + 6 abad sebelum kelahiran Isa al-Masih ).

Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”.

Orang pertama yang menggunakan kata philosophia adalah Pytagoras (572-497 SM).

 

Menurut Suriasumantri (1996) karakteristik dalam berpikir filsafat ada dua sifat utama, antara lain:

Sifat pertama, menyeluruh; seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri, tetapi ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya.

Sifat kedua adalah mendasar; dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu dapat disebut benar? bagaimana proses penilaian kriteria tersebut dilakukan? apakah kriteria itu sendiri benar? lalu kata benar sendiri itu apa? seperti sebuah lingkaran maka pertanyaan itu melingkar.

Moh. Hatta memberikan arti filsafat sebagai usaha manusia, baik dengan pikiran maupun perasaan batin untuk mencari kebenaran tentang sesuatu.  Seorang filosuf terkemuka G.E. Moore (1873) memberikan komentar tentang  filsafat  bahwa : fungsi utama dari filsafat adalah memberikan gambaran tentang alam semesta sebagai keseluruhan. Selanjutnya manusia dalam usaha untuk mendapat jawaban mengenai alam semesta, Moore menyebut adanya bermacam-macam jalan berfilsafat,  yaitu;

  1. berdasarkan common  sense
  2. berdasarkan pengetahuan tambahan terhadap common sense.
  3. adanya hal-hal yang mungkin terdapat dalam alam semesta
  4. kemungkinan tidak adanya hal-hal itu di alam semesta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: