Ambivalensi Teknologi Komunikasi

Just a minute! Something’s happening.! Ladies and gentlemen, this is terrific. The end of the thing is beginning to flake off! The top is beginning to rotate like a screw! The thing must be metal! This is the most terrifying thing I have ever witnessed! Wait a minute. Someone is crawling out of the hollow top. Someone or… something. I can see peering out of that black two luminous discs .. are they eyes? It might be a face. It might be …”

Petikan di atas adalah bagian dari naskah drama radio yang dimaikan oleh Orson Welles dan Mercury Theater pada 30 Oktober 1938 yang disiarkan oleh CBS Radio Studio One di New York. Secara keseluruhan, drama yang bertema invasi dari Mars tersebut menggambarkan adanya serbuah makhluk luar angkasa, tepatnya dari Mars, ke bumi.

Bagi kita tentu saja cerita tersebut tidak ada yang aneh, karena memang kita sudah sangat sering melahap berbagai tayangan fiksi seputar makhluk luar angkasa. Tapi tidak bagi masyarakat New York ketika itu.

Drama Orson yang berdurasi satu jam tersebut ternyata ketika itu membawa efek jauh dari yang dibayangkan. Segera setelah drama selesai, berbondong-bondong masyarakat mengungsi ke stasiun CBS dengan membawa berbagai prabot. Jalan-jalan dipenuhi suasana histeris. Gereja penuh dengan orang yang mendadak mengadakan kebaktian. Semuanya mengira bahwa cerita drama tersebut adalah sungguhan. Baru setelah Orson dan pihak studio menjelaskan duduk perkara sebenarnya, masyarakat kembali tenang. Tak pelak, kejadian tersebut menyadarkan ilmuwan tentang betapa besar pengaruh penyiaran terhadap pembentukan masyarakat.

Penyiaran, pada hakikatnya adalah salah satu keterampilan dasar manusia ketika berada pada posisi tidak mampu untuk menciptakan dan menggunakan pesan secara efektif untuk berkomunikasi. Penyiaran dalam konteks ini adalah alat untuk mendongkrak kapasitas dan efektifitas komunikasi massa.

Dalam teori teknologi mediadan masyarakat massa (lihat Barran & Davis, 2000: 48) misalnya dikatakan bahwa teknologi mediamemiliki sejumlah asumsi untuk membentuk masyarakat, yakni:

1.     Teknologi mediamassa (tak terkecuali penyiaran) memiliki efek yang berbahaya sekaligus menular bagi masyarakat. Untuk meminimalisir efek ini di Eropa pada masa 1920-an, penyiaran dikendalikan oleh pemerintah, walaupun ternyata kebijakan ini justru berdampak buruk di German dengan digunakannya penyiaran untuk propaganda Nazi.

2.     Teknologi mediamassa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pola pikir rata-rata audiensnya. Bahkan pada asumsi berikutnya dalam teori ini dikatakan bahwa ketika pola pikir seseorang sudah terpengaruh oleh media, maka semakin lama pengaruh tersebut semakin besar.

3.     Rata-rata orang yang terpengaruh oleh media, dikaranakan ia mengalami keterputusan dengan institusi sosial yang sebelumnya justru melindungi dari efek negatif media. Relevan dengan hal tersebut John Dewey, seorang pemikir pendidikan, misalnya pernah berkata bahwa efek negatif teknologi mediadapat disaring melalui pendidikan.

 

Penggunaan teknologi mediasebagai wahana komunikasi sudah dilakukan oleh manusia sejak tahun 20.000 SM dalam bentuk pahatan di dinding goa atau asap api sebagai simbol komunikasi. Revolusi teknologi mediasemakin pesat ketika pada tahun 1.500 M Johannes Gutenberg memperkenalkan mesin cetak. Revousi komunikasi pada puncaknya menciptakan masyarakat informasi (information society).

Di Indonesia, radio merupakan alat komunikasi penting sejak negara ini baru berdiri. Kepemilikan pesawat radio naik dengan pesat, hingga mencapai setengah juta yang berlisensi pada pertengahan 1950an. Radio digunakan secara luas di bidang pendidikan, terutama pendidikan politik, seperti mempersiapkan para calon pemilih untuk pemilu pertama pada 1955. Indonesia yang merdeka mengikuti kebijakan pemerintah Jepang dalam hal monopoli siaran. Sampai terbentuknya Orde Baru, terdapat 39 stasiun RRI di seluruh Indonesia, menyiarkan kepada lebih dari satu juta radio berlisensi. Kota-kota besar menerima prrogram regional dan nasional RRI.

Berita dan siaran lain yang dirancang khusus merupakan kewajiban untuk di-relay semua stasiun RRI dari jakarta. Stasiun daerah dapat menampung program dalam bahasa daerah dan program buatan lokal tanpa adanya televisi (hingga 1962), dengan tingkat melek huruf yang sangat rendah dan adanya pers yang relatif beragam dan bebas, RRI merupakan medium pemerintah paling terpusat dan paling utama untuk memobilisasi opini publik.

Pengaruh RRI sudah jelas bagi semua pihak dalam kudeta dan counter kudeta tahun 1965 (Sen&Hill, 2000: 95). Gedung publik pertama yang dikuasai oleh pasukan Letkol Untung pada 1 Oktober adalah RRI dan sejumlah pusat telekomunikasi di Jakarta Pusat, medan Merdeka. Tindakan publik Untung yang pertama adalah melakukan siaran melalui radio, mengumumkan bahwa sebuah rencana oleh ‘Dewan Jendral’ untuk menggulingkan Presiden telah digagalkan. Setelah pasukan mayjen Soeharto merebut kembali studio-studio RRI di Jakarta malam itu, Soehaarto menyiarkan kepemimpinannya atas Angkatan Bersenjata.

Pada kesempatan yang sama, Sen dan Hill (200: 97)juga mengatakan bahwa secara umum radio juga signifikan dalam melegitimasi kenaikan Soeharto ke tumpuk kekuasaan pada 1965. Instabilitas politik dan stasiun radio sebagai hobby di awal 1960-an. Pada masa itu, tak sedikit orang mengoprasikan radio dari rumah secara pribadi. Sebagian di antaranya menjadi lebih bersifat politik setelah insiden 1 oktober 1965, dan memiliki staf yang terdiri dari sekelompok aktivis mahasiswa yang menentanng presiden Soekarno. Mereka bekerja secara bergantian sepanjang waktu.

Di antara yang paling terkenal adalah radio Ampera, didirikan oleh para aktivis mahasiswa termasuk kakak beradik Soe Hok Gie dan Arif Budiman. Mereka melakukan siaran dari rumah Mashuri, seorang tetangga daan orang terpercaya soeharto. Meskipun secaara teknik sebetulnya ilegal, siaran-siaran anti-Komunis dan anti-Soekarno semacaam itu tak hanya dibiarkan, tetapi malah dibantu7 secara aktif oleh fraksi-fraksi militer yang berkuasa. Berpangkal dikediamaan Mashuri Radio Ampera dilindungi oleh pasukan pro-soeharto.

Jelaslah bahwa penyiaran merupakan wahana komunikasi massa dasar yang telah terbukti efektivitasnya. Tanpa teknologi mediakomunikasi dasar, manusia tidak mungkin mendistribusikan satu pesan ke banyak penerima secara global. Tanpa perangkat seperti komputer, mesin fotocopy, microfilm dan perangkat siar digital lainnya manusia akan sangat terbatas dalam menyampaikan dan menerima pesan. Dengan demikian, teknologi mediamemperluas komunikasi manusia dalam hal (1) produksi dan distribusi pesan dan (2) menerima, menyimpan dan menggunakan kembali informasi. Produksi meliputi penciptaan pesan menggunakan teknologi mediakomunikasi, sedangkan distribusi meliputi (1) transmisi, yakni memindahkan pesan, (2) reproduksi yang diikuti amplifikasi (penjelasan) pesan, dan (3) display; membuat pesat nampak secara fisik ketika sampai ke tujuan.

Berkaitan dengan hal tersebut maka tak salah jika salah satu aspek komunikasi dalam rumusan Lasswell adalah adanya channel, yakni saluran penyampaian pesan. Aspek ini merujuk pada adanya alat komunikasi yang tentu saja tidak dapat dilepaskan dari persoalan teknologi teknologi komunikasi. Dalam kajian etika dan filsafat, persoalan filosofis berkutnya yang mesti dibahas terkait teknologi adalah netralitas teknologi itu sendiri.

Apakah teknologi itu netral? Pertanyaan tersebut sejatinya sangat esensial karena merupakan pertanyaan filosofis. Ada dua jawaban dari pertanyaan tersebut, yakni Ya. Jika kita melihat teknologi dengan segala prinsip kerjanya, dan  Tidak, jika kita melihat pada manusia disekitar teknologi.

Jika kita melihat teknologi sebagai hukum-hukum fisika dan ilmu pengetahuan yang direkayasa berikut perkembangannya sedemikian rupa, maka kita pada dasarnya kita melihat teknologi sebagai sebuah sebuah sistem yang tertutup. Atau dengan kata lain kita melihat teknologi secara kebendaan. Maka dengan demikian teknologi adalah netral. Hukum air mendidih pada suhu seratus derajat Celcius misalnya akan berlaku dimanapun, tanpa melihat perbedaan kondisi sosial-politik suatu negara.

Sedangkan bila kita melihat teknologi sebagai berikut tataran sosial-politik yang melingkupinya, maka teknologi tidak lagi bebas nilai. Teknologi tidak lagi hanya benda mati, tapi teknologi merupakan sistem terbuka yang sensitif terhadap perubahan struktur messo dan struktur makro yang melingkupinya.

Terkait dengan embivalensi teknologi komunikasi, Marshal Mc Luhan, pakar komunikasi dari Kanada menyebut dua kemungkinan pengaruh perkembangan teknologi komunikasi, yakni:

  1. 1. GLOBAL VILLAGE

Yakni teknologi komunikasi menciptakan manfaat positif dengan mengatasi hambatan jarak dan waktu, sehingga seolah-olah dunia hanyalah sebuah desa. Manusia dapat berinteraksi dimanapun dan kapanpun.

  1. 2. GLOBAL PILLAGE

Yakni teknologi menciptakan manfaat negatif, dengan cara menciptakan ketergantungan. Manusia menjadi sangat bergantung pada teknologi, tanpa menyadari bahwa teknologi pada dasarnya hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Ketergentungan menyebabkan pengalihan nilai filosofi dengan menempatkan teknologi sebagai tujuan, bukan alat. Karenanya orang yang menguasai teknologi pada hakikatnya telah menguasai dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: